Ingat Bunga Ingat Rawa Belong

Flash

  • Krisan PT
    Rp. 27500
    Alenda Florist / 09-04-2010
  • Aster PT
    Rp. 25000
    Rizky Florist / 09-04-2010
  • Bunga Papan 3
    Rp. 550000
    New Dahlia Florist / 09-04-2010
  • Bunga Papan 4
    Rp. 60000
    Apple Blossom Florist / 09-04-2010
  • Baby Brad
    Rp. 20000
    Amanda Flora / 09-04-2010
  • Casablanca
    Rp. 13500
    Amanda Flora / 09-04-2010
  • kalla lili
    Rp. 15000
    Andira Rose / 09-04-2010
  • Aster PT
    Rp. 25000
    Fajar Rose / 09-04-2010
  • Casablanca
    Rp. 13500
    Rafafi / 09-04-2010
  • Mawar
    Rp. 15000
    Alam Sari / 09-04-2010

Contact Person


  • Dinas Kelautan Dan Pertanian DKI Jakarta
    drh. Edy Setiarto, MS
    distan.jakarta.go.id
    Kirim Email

  • UPT Pusat Promosi Dan Pemasaran Hasil Pertanian Dan Hasil Hutan
    Ir. M MULYADI
    Jl. Sulaiman No.50
    Kebun Jeruk, JakBar
    Kirim Email

  • Ditjen PPHP Deptan
    Ir. RN. Nurnadiah, MM
    Kirim Email


Hits :

52139

User OnLine :

1

IP Anda :

38.107.191.98

Headline News


[ back ] [ dibaca 417 x ]
PEMBUATAN KOMPOS TERFERMENTASI
2009-11-30 16:53:31 oleh PT Bina Madya Persada

 

        Hasil analisis usaha dalam bidang agribisnis menunnjukan bahwa biaya penggunaan pupuk secara signifikan mengalami kenaikan yang cukup besar dari tahun ke tahun. Tingginya biaya pemupukan ini terutama didominasi oleh penggunaan pupuk kimia/anorganik, dimana selama lima tahun terakhir ini harga pupuk anorganik ini mengalami kenaikan yang sangat dratis sehingga sudah cukup meresahkan masyarakat/petani. Besarnya penggunaan pupuk anorganik terutama berupa pupuk urea,ZA, KCl, TSP dan pupuk   SP-36   yang merupakan sumber unsur makro tanaman. Sementara itu, dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa ada beberapa jenis pupuk anorganik/kimia jika digunakan kurang tepat justru menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesuburan tanah itu sendiri. Sebagai contoh pupuk ZA jika sering dipakai, apalagi bila tanahnya mempunyai pH yang sudah rendah maka penggunaan pupuk ini justru mengakibatkan tanah menjadi bantat, mempunyai permeabilitas kurang baik dan keras pada saat diolah.   Disamping itu, dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa tidak semua unsur hara yang terkandung dalam pupuk dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman, sebab pada kenyataannya ada unsur yang hilang akibat aliran air, pencucian, penguapan, pengikatan unsur lain ataupun terikat oleh koloid tanah. Unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman dari pupuk anorganik hanya sekitar 29-45 % untuk unsur Nitrogen, 10-12 % untuk unsur Phospat, dan 39-40 % untuk unsur Kalium.

 

          Tingginya biaya pemupukan dan makin besarnya ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik/kimia, jika dibiarkan terus berlanjut akan menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan dalam pengembangan agribisnis. Untuk itu perlu diupayakan suatu pupuk alternatif  yang dapat mensubtitusi ataupun paling tidak sebagai salah satu komplementer pupuk anorganik, sehingga mampu mengoptimalkan manfaat pupuk anorganik. Hal ini berarti selain dapat menghemat biaya pemupukan, juga dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Sementara itu, Tingkat produktifitas tanah sangat dipengaruhi oleh nilai keseimbangan kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah. Dengan meningkatkan tingkat kesuburan tanah atau paling tidak mempertahanan tingkat kesuburan tanah berarti akan mendorong tingkat produktifitas tanah menjadi lebih baik untuk pertumbuhan tanaman. Dengan demikian ke depan akan mampu menunjang pembangunan Pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu pupuk alternative yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik adalah pupuk organik hasil fermentasi sisa tumbuhan, baik berupa daun ataupun bunga .

 

            Pupuk organic atau pupuk biologis hasil fermentasi dari berbagai macam bahan alami terutama sisa bunga, dan daun berikut hasil ikutannya dihaluskan dengan mesin pencacah. Hingga diperoleh struktur ukuran tertentu, semakin halus ukurannya semakin baik. Selanjutnya sisa bunga/sampah bunga yang telah dihaluskan difermentasikan dengan bahan aktif khusus berupa Yeast (Ragi) selama beberapa hari, hingga terbentuk struktur bahan yang telah terfermentasi, dengan warna bahan mendekati warna coklat kehitaman.

 

         Hasil fermentasi sampah bunga ini, khusus diformulasikan untuk merangsang pertumbuhan tanaman, baik pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan generatif. Oleh karena itu, pupuk organic ini sangat cocok digunakan untuk campuran media persemaian, pembibitan, dan sebagai pupuk organik untuk tanaman yang masih muda maupun dewasa.

 

             Ada 3 keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan pupuk organik terfermentasi pada lahan-lahan pertanian, terutama lahan-lahan marginal dan lahan kritis. Tiga keuntungan tersebut adalah :
  1. Secara fisik pupuk organi hasil fermentasi dapat berfungsi sebagai bahan pembenah tanah, yang sekaligus juga dapat mempercepat proses agregasi tanah, tata udara tanah, porositas tanah dan sekaligus memperbaiki struktur tanah.
  2. Secara kimiawi pupuk organik hasil fermentasi cukup mengandung unsur makro (Nitrogen, Phospat, Kalium) dan dilengkapi dengan unsur  mikro yang sangat dibutuhkan untuk pelengkap pertumbuhan tanaman.
  3. Secara biologis, pupuk organik hasil fermentasi merupakan inokulan dari beberapa macam mikro organisme yang menguntungkan, sehingga dapat meningkatkan keragaman dan tingkat populasi mikro organisme menguntungkan dalam tanah. Hal ini berarti proses dekomposisi tanah secara aktif dapat terus berlangsung, sehingga mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang seimbang. Dengan demikian penggunaan pupuk organik hasil fermentasi dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam mengendalikan, menyimpan dan menyediakan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman sesuai dengan kebutuhannya. Adanya beberapa inokulan mikroorganisme tanah yang menguntungkan maka akan sangat membantu dalam proses penyediaan unsur hara Nitorgen, Phospat, dan kalium dalam tanah melalui aktivitas enzim, asam organik dan polisakarida ekstra sel yang dihasilkan, sehingga mudah tersedia bagi tanaman.   Dengan demikian produktivitas tanah akan selalu terjaga.

Alat dan Bahan :

  1. Alat  ;
    1. Mesin pencacah bahan 2 PK
    2. Garpu
    3. Cangkul
    4. Termometer
    5. Skop ganggang
    6. Gembor
    7. Sarung tangan
  2. Bahan :
    1. Bahan organic berupa daun, bunga atau limbah rumah tangga
    2. Ragi tape atau ragi roti
    3. Gula putih dan gula merah
    4. Dedak
    5. Zeolit dalam bentuk bubuk/dust
    6. Kemasan plastik

Tahapan kegiatan dalam pembuatan kompos terfermentasi :

1. Tahap pemilahan bahan  organik, baik berupa daun, bunga ataupun limbah rumah tangga yang dapat di daur ulang

2. Tahap perajangan dan penghalusan bahan

3. Tahap pembuatan adonan bahan

4. Tahap pembuatan media fermentasi 

5. Tahap inokulasi dan fermentasi (pencampuran media fermentasi dengan   adonan limbah bunga)

6. Tahap pembalikan media terfermentasi

Langkah operasional pembuatan kompos terfermentasi :

1.  Memilahkan limbah bunga yang dapat di daur ulang

2.  Merajang dan menghaluskan limbah bunga

3.  Limbah bunga yang telah dihaluskan dicampur dengan dedak

( perbandingan 5 : 1 ) dan tambahkan zeolit bentuk bubuk secara merata dan hamparkan pada lantai  dasar atau diatas alas plastik.

4.  Membuat media fermentasi cair yang yang terdiri dari campuran antara air matang 10 liter, RAGI 100 gr, gula putih 500 gr dan gula merah 1 kg dan tambahkan inokulan mikroorganisme sebanyak 200 ml

5. Siramkan larutan media fermentasi cair secara perlahan-lahan kedalam adonan secara merata hingga kandungan air adonan mencapai kapasitas lapang/30-40%. Atau jika dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, dan bila kepalan dilepas, maka adonan akan mengembang


6. Bahan adonan yang telah dilakukan inokulasi dihamparkan diatas ubin yang kering dengan ketinggian antara 15-30 cm, selanjutnya ditutup dengan karung goni atau terpal selama 3-4 hari.

7. Pertahankan suhu gundukan adonan pada kisaran antara 40-50 oC. Apabila suhu lebih dari 55 oC maka bukalah karung penutup/terpal selanjutnya gundukan adonan dibolak-balik, kemudian diratakan dengan ketinggian seperti semula dan ditutup kembali dengan karung goni/terpal. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan proses dekomposisi berubah dari proses fermentasi menjadi proses pembusukan. Oleh karena itu pengecekan suhu harus dilakukan setiap 4 - 5 jam sekali

  1. Setelah 4 hari, limbah bunga yang terfermentasi dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik atau dapat langsung dimasukan kedalam karung/plastik yang ada pori-porinya  untuk disimpan

9. Semakin lama dalam penyimpanan akan semakin baik, karena proses fermentasi akan dapat berjalan sempurna.

10.Jika akan disimpan dalam bentuk tumpukan karung, sebaiknya maksimal 1(satu) tumpukan setebal 3-4 tumpukan saja, agar sirkulasi udara masih dapat menjangkau media yang telah terfermentasi.

 

[ back ] [ dibaca 417 x ]