Ingat Bunga Ingat Rawa Belong

Flash

  • Krisan PT
    Rp. 27500
    Alenda Florist / 09-04-2010
  • Aster PT
    Rp. 25000
    Rizky Florist / 09-04-2010
  • Bunga Papan 3
    Rp. 550000
    New Dahlia Florist / 09-04-2010
  • Bunga Papan 4
    Rp. 60000
    Apple Blossom Florist / 09-04-2010
  • Baby Brad
    Rp. 20000
    Amanda Flora / 09-04-2010
  • Casablanca
    Rp. 13500
    Amanda Flora / 09-04-2010
  • kalla lili
    Rp. 15000
    Andira Rose / 09-04-2010
  • Aster PT
    Rp. 25000
    Fajar Rose / 09-04-2010
  • Casablanca
    Rp. 13500
    Rafafi / 09-04-2010
  • Mawar
    Rp. 15000
    Alam Sari / 09-04-2010

Contact Person


  • Dinas Kelautan Dan Pertanian DKI Jakarta
    drh. Edy Setiarto, MS
    distan.jakarta.go.id
    Kirim Email

  • UPT Pusat Promosi Dan Pemasaran Hasil Pertanian Dan Hasil Hutan
    Ir. M MULYADI
    Jl. Sulaiman No.50
    Kebun Jeruk, JakBar
    Kirim Email

  • Ditjen PPHP Deptan
    Ir. RN. Nurnadiah, MM
    Kirim Email


Hits :

52143

User OnLine :

1

IP Anda :

38.107.191.98

Headline News


[ back ] [ dibaca 369 x ]
PEMBENAHAN PASAR BUNGA POTONG DAN DAUN POTONG MELALUI MEKANISME LELANG
2009-11-23 11:05:26 oleh PT Bina Madya Persada

A. LATAR BELAKANG

        Perkembangan agribisnis di Indonesia, dewasa ini dan pada masa mendatang, diindikasikan akan menghadapi tantangan yang sangat besar, khususnya pada subsektor non pangan, seperti hortikultura termasuk didalamnya bunga dan tanaman hias. Meningkatnya persaingan antarnegara produsen komoditas komersial diduga akan semakin nyata dan sangat ketat. Dengan melihat trend perkembangan saat ini, bukan hal yang mustahil, kalau nantinya produsen komoditas dan para pelaku agribisnis Indonesia hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri, menyaksikan pergulatan para produsen dan pelaku agribisnis dari Negara lain untuk merebut pasar dalam negeri yang sangat potensial. Bahkan bisa jadi kita hanya akan menjadi buruh dan konsumen potensial bagi Negara lain.

        Tanda-tanda ke arah itu sudah semakin nyata terlihat, terbukti dengan semakin membanjirnya produk-produk agribisnis komersial seperti sayur, buah dan bunga impor. Oleh karena itu, diperlukan adanya kebijakan Pemerintah yang mampu memotivasi para pelaku agribisnis untuk memproduksi dengan kualitas prima dalam rangka membendung membanjirnya komoditas impor sejenis, serta suatu kebijakan yang dapat mendorong meningkatnya nilai eksport komoditas agribisnis yang bernilai ekonomis tinggi.

        Pengembangan eksport komoditas agribisnis berupa bunga dan tanaman hias sudah harus dipikirkan, dibenahi dan ditata, sehingga nantinya akan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab selain potensi keanekaragaman berbagai spesies bunga dan tanaman hias sangat besar di Indonesia, sebenarnya potensi pasar domestik untuk produk ini juga terus mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat.

        Pengembangan produksi dan distribusi komoditas bunga dan tanaman hias jika dikelola dengan baik dan terintegrasi nantinya akan memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional. Sebab permintaan komoditas ini terutama dikota-kota besar terus mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya pendapatan dan perubahan gaya hidup masyarakat kota. Potensi pasar tersebut harus dapat dimanfaatkan dengan baik, jika kita mau tetap eksis dalam percaturan perdagangan internasional. Sebab jika tidak peluang tersebut justru akan dimanfaatkan oleh pelaku-pelaku mancanegara untuk dapat ambil untung dari potensi pasar yang sangat besar tersebut. Pasar dan pusat-pusat konsumsi dalam negeri, seperti supermarket, hotel, florist dan restoran memerlukan kepastian pasokan bunga dalam jumlah, kualitas, waktu pengiriman dan harga yang tepat serta kontinyuitas produksi yang terjamin.

       Sementara itu, karakteristik dari komoditi ini seperti halnya produk pertanian yang lain, yaitu dalam satu satuan tertentu memiliki volume yang besar, cepat rusak, mempunyai kualitas yang beranekaragam sehingga dalam jangka waktu yang relative singkat akan dapat terjadi penurunan nilai/harga yang sangat dratis, bahkan ada kecenderungan untuk tidak laku. Komoditas ini tingkat nilai/harga justru sangat dipengaruhi oleh tingkat kesegarannya (freshness). Oleh karena itu diperlukan penanganan yang cepat. Pengelolaan yang baik dan intensif harus sudah dimulai pada saat praproduksi, produksi, panen, pascapanen, penyimpanan, transportasi, sampai dengan pendistribusiannya, sehingga tingkat kesegarannya selalu terjaga dan produk tidak rusak. Untuk dapat merealisasikan hal-hal tersebut diatas diperlukan suatu sistem pemasaran yang dapat mendorong dan sekaligus memberikan tekanan (pressure) kepada para pelaku agribisnis tersebut. Salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal itu, dapat dilakukan dengan menyediakan Pasar lelang bunga. Pasar lelang bunga pada hakekatnya adalah pasar tempat kegiatan transaksi dari para produsen, pedagang, florist dan eksportir dengan volume transaksi dalam jumlah besar. Dalam pasar lelang bunga (flower auction market) ini pembentukan harga lebih transparan (price discovery), proses transaksi akan berjalan lebih cepat, kualitas akan lebih seragam dan kepastian harga lebih terjamin

B. PERMASALAHAN

Ada beberapa kendala yang seringkali merupakan hambatan dalam pemasaran bunga potong dan daun potong, baik mulai dari aspek produksi, pascapanen, transportasi, maupun distribusi. Dalam aspek produksi misalnya letak lahan usahatani yang menyebar dengan skala luasan yang terus mengecil, komoditinya mudah rusak dan bersifat musiman serta mutu produk yang dihasilkan sangat beragam. Sementara itu petani/kelompok tani hingga saat ini masih belum mampu melakukan fungsi penanganan produk agar dapat memenuhi permintaan pasar. Oleh karena itu, dengan adanya pasar lelang maka dengan sendirinya petani/kelompok tani akan berusaha menyesuaikan, berkenaan dengan adanya kepastian harga pada saat pelelangan. Akibatnya secara tidak langsung petani/kelompok tani akan selalu berusaha dalam berusahatani untuk dapat merealisasikan produknya sesuai standart permintaan pasar. Sementara itu, pada aspek pemasaran kendala yang sering jadi hambatan adalah mata rantai tata niaga dari sentra produksi ke sentra konsumsi cukup panjang yang diperparah dengan adanya struktur pasar yang kurang baik, akibatnya seringkali menimbulkan terjadinya distorsi pasar. Kendala lain dalam pemasaran terutama pada lokasi produksi adalah; alur distribusi sangat rumit, tidak ada standard mutu, sistem harga tidak transparan, dan posisi tawar petani dalam menjual produknya rendah, petani tidak memperoleh informasi mengenai harga dan situasi pasar, keterbatasan dana pada petani mengakibatkan kurang mampu mengembangkan usahanya dan memperbaiki kualitas produknya.

C. TUJUAN

Tujuan pengembangan pasar bunga melalui sistem lelang adalah untuk menciptakan sistem pemasaran yang lebih baik melalui transparansi mekanisme penentuan harga dan peningkatan efisiensi dan efektifitas pemasaran. Dengan demikian secara tidak langsung akan mampu meningkatkan daya saing produk baik dipasar domestic maupun pasar internasional (meningkatkan eksport dan menurunkan impor), mencukupi kebutuhan daerah, meningkatkan insentif bagi peningkatan produksi dan mutu, dan meningkatkan pendapatan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan agribisnis bunga dan daun potong. D. KERANGKA PEMIKIRAN Secara umum tujuan penataan pemasaran komoditas bunga potong (cut flower) dan daun potong (cut leaf) melalui sistem lelang di UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hasil Pertanian dan Hasil Hutan adalah dengan semakin meningkatnya berbagai jenis bunga yang diperdagangkan serta besarnya Potensi bunga potong yang ditunjukkan dari volume transaksi di Pasar Bunga Rawa Belong selama 5 (enam) tahun terakhir, dengan rata-rata total penjualan mencapai Rp. 45 milyar pertahunnya. Omzet terbesar untuk Kelompok Anggrek disumbang oleh jenis Phalaeonopsis sp, Dendrobium sp, Vanda dan Douglas; sedangkan Kelompok Bunga Gunung disumbang jenis krisan, sedap malam dan gladiol, mawar, dan Casablanca. Besarnya pasokan bunga potong dan daun potong yang mengalir ke Jakarta sebagai salah satu sentra konsumsi yang tidak dibarengi dengan terstandarisasinya kualitas bunga mengakibatkan bervariasinya tingkat harga dan terjadinya fluktuasi harga yang sangat tajam, akibatnya pada kondisi tertentu permintaan tinggi pasokan sedikit, sementara pada saat ertentu jumlah pasokan besar permintaan rendah sehingga mengakibatkan bunga & daun potong tidak laku. Hal ini mendorong untuk dapat dengan segera merealisasikan pasar lelang bunga di Provinsi DKI Jakarta umumnya serta khususnya UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hasil Pertanian dan Hasil Hutan. Secara rinci trend kenaikan omzet transaksi bunga di UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hasil Pertanian dan Hasil Hutan.

1. KONDISI SISTEM PEMASARAN DEWASA INI

Sistem pemasaran dan distribusi produk bunga potong ( cut flower) dan Daun potong (Cut leaf) secara konvensional yang ada pada saat ini memiliki kondisi dan kinerja belum seperti yang diharapkan. Beberapa permasalahan yang dominant dalam pemasaran dan distribusi bunga segar yang berlangsung selama ini, adalah : a. Sifat produk yang mudah rusak dan kualitas yang mudah menurun dratis belum dapat diatasi melalui penanganan yang cepat dan efisien karena belum adanya institusi yang melakukan penanganan, belum tersedianya teknologi yang sesuai, dan belum adanya sarana penanganan. b. Sistem pemasaran produk yang cukup panjang tetapi tanpa memberikan nilai tambah yang sepadan, sehingga menimbulkan in-efisiensi, yang pada akhirnya memberikan tekanan pada konsumen dalam bentuk harga tinggi dan terjadi fluktuasi harga yang sulit dikendalikan dan disisi lain juga terjadi tekanan pada petani dalam bentuk proporsi harga yang diterima rendah. c. Mekanisme pembentukan harga bersifat tertutup dan berjalan sepihak, sebagai akibat ketidakseimbangan kekuatan tawar menawar antar pelaku, informasi yang bersifat asimetri dan berbagai faktor kelembagaan lainya yang belum mendukung secara optimal dalam pemasaran bunga segar. Berkembangnya berbagai permasalahan yang ada pada system pemasaran konvensional, diperlukan adanya upaya solusi untuk memperbaikinya dengan memperkenalkan institusi baru yang bersifat komplementer atau transformasi melalui evolusi yang dipercepat menuju sistem pemasaran yang dapat diandalkan seperti halnya pasar lelang.

2. SISTEM PEMASARAN BUNGA YANG DIHARAPKAN

Pembentukan dan pengembangan pasar lelang bunga diarahkan agar mampu melakukan seluruh fungsi pemasaran bunga dan tanaman hias secara modern, baik untuk produk yang diperdagangkan pada pasar domestik maupun untuk memenuhi kebutuhan pasar Internasional. Peran Pasar Lelang di Pasar bunga Rawa belong diharapkan sebagai : 1) Pemusatan (konsentrasi) beranekaragam jenis bunga, tanaman hias dan asesorisnya dari berbagai tempat pemasok dalam jumlah yang efisien untuk dipasarkan, 2) Pembentukan harga yang transparan, wajar yang menggambarkan kekuatan permintaan dan penawaran dan berlangsung secara efektif dan cepat, 3) Pendistribusian dari produsen/importir dapat berlangsung secara cepat dan efisien ke pengecer/eksportir, 5) Dapat digunakan sebagai salah satu instrument untuk memproteksi produk-produk sejenis dari mancanegara yang dapat mengganggu stabilitas harga, 6) Penyelesaian transaksi, melalui berbagai mekanisme pembayaran yang didukung dengan berbagai pelayanan perijinan, perbankan dan lembaga lain yang terkait, 7) mengurangi biaya bongkar muat dan penanganan produk dalam jumlah yang efisien, 8) Sebagai sarana pengumpulan, promosi dan penyebaran berbagai informasi pemasaran, 9) Dapat digunakan sebagai salah satu pendukung aktivitas pelayanan penunjang seperti proses sertifikasi keamanan dan mutu produk, pemeriksaan, penyimpanan, lembaga penjamin, lembaga keuangan dan lain sebagainya. Pada sistem pemasaran lelang bunga petani/produsen harus dikondisikan untuk mampu memproduksi bunga dengan kualitas prima, baik melalui bioteknologi pada saat pembibitan seperti kultur jaringan (tissue culture) maupun peningkatan kemampuan teknologi dalam panen dan pascapanen. Dalam prakteknya hasil produksi petani dapat dijual kepada pedagang pengumpul, hanya saja pada transaksi jenis ini, posisi tawar petani lemah. Oleh karena itu, pada sistem pemasaran dengan lelang petani diharuskan untuk menjual produknya melalui kelompok tani ataupun koperasi. Dengan demikian, akan mempunyai posisi rebut tawar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan di pasarkan secara individual. Melalui pasar lelang petani bunga dengan skala kecil dapat bergabung dalam kelompok tani atau koperasi sehingga dapat melakukan transakasi, sesuai dengan jumlah minimal yang dipersyaratkan pada pasar lelang. Implikasi dari penggabungan itu, selain memiliki posisi tawar yang lebih baik, juga akan lebih mudah dan cepat dalam transaksi. Selain itu jika dalam pasar lelang forward terjadi transaksi, maka melalui kelompok tani akan lebih mudah untuk memenuhi kewajiban atau merealisasikan kesepakatan transaksi, sehingga terjadinya “gagal serah” dapat diperkecil kemungkinannya. Dengan pasar lelang proses transaksi dapat berjalan secara cepat dan transparan, sehingga sifat-sifat produk bunga yang mudah rusak dapat diminimalisir. Dan secara tidak langsung kualitas bunga lebih seragam dan lebih baik, karena sebelum terjadi transaksi sudah tercapai persamaan persepsi tentang kualitas produk bunga yang disesuaikan dengan tingkat harga dari bunga itu sendiri. Dengan demikian, petani akan selalu berusaha untuk dapat mengusahakan produk bunganya sesuai dengan yang disepakati dalam perjanjian jual-beli pada sistem lelang. Seperti halnya kegiatan-kegiatan ekonomi yang lain, maka pada pasar lelang bungapun diperlukan lembaga-lembaga pendukung, diantaranya dapat berupa : lembaga penjamin, lembaga keuangan termasuk perbankan, lembaga standarisasi mutu bunga, lembaga sertifikasi dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pasar lelang. Dalam pelaksanaannya, pembentukan dan pengembangan pasar lelang harus didasarkan pada skala optimal jumlah konsumen dan produsen yang dilayaninya. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar konsumen dari berbagai wilayah dapat terlayani dengan baik dan tidak terjadi penumpukan produk yang pada akhirnya justru akan mengakibatkan kemacetan pemasokan atau in-efisiensi. Pada Pasar Lelang Bunga segar ( fress flower auction market) disamping yang ditransaksikan merupakan produk dalam negeri, juga diperdagangkan produk impor. Sebab selain untuk mencukupi berbagai keperluan bunga oleh konsumen di Propinsi DKI Jakarta sendiri sebenarnya sekaligus juga dapat digunakan sebagai instrument untuk memonitor besarnya volume impor bunga segar atupun berbagai jenis bunga impor, maka juga dapat digunakan sebagai sarana untuk merekomendasikan jenis bunga segar yang diproteksi agar tidak mengganggu stabilitas harga. Dengan menelaah arti penting peran pasar lelang bunga dalam struktur perekonomian ke depan, maka dalam pembentukan dan pengembangannya selain sarana fisik gedungnya permanen dan memadai, juga harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas sarana pendukung seperti cold storage, areal parkir yang memadai serta jaringan informasi yang dapat diandalkan. Pasar Lelang Bunga pada hakekatnya adalah pasar tempat transaksi hasil produksi bunga dari petani produsen dan selanjutnya didistribusikan kepada konsumen akhir. Pasar tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang yang menuju pasar lelang yang modern. Di pasar bunga ini diharapkan terjadi praktek perdagangan yang jujur dan bertanggung jawab antar pelaku penjual dan pembeli serta system pembentukan harga yang transparan melalui kegiatan lelang.

[ back ] [ dibaca 369 x ]